Humas Tradisional vs Digital PR

Humas Tradisional vs PR Modern

Katalisnet.com — Praktik hubungan masyarakat (humas) atau public relatiosn (PR) mengalami evolusi dari humas tradisional atau PR konvensional ke humas digital (digital PR, Cyber PR, humas online, humas modern).

Humas tradisional atau konvensional tetap penting dan masih efektif, selama media tradisional cetak dan penyiaran masih eksis.

Humas tradisional adalah bentuk komunikasi tanpa memerlukan jaringan internet. Fokus jangkauannya pada media tradisional, seperti koran, majalah, TV, dan Radio.

PR tradisional biasanya digunakan untuk menggambarkan strategi yang digunakan untuk mendapatkan liputan di media-media tersebut.

Taktik yang digunakan humas tradisional memerlukan press release (rilis pers), manajemen reputasi, serta membina hubungan baik dengan media dan pers (media relations).

Tradisional PR masih efektif untuk meningkatkan brand awareness. Menggunakan TV dan Radio merupakan media yang masih memiliki pengaruh kuat dan jangkauan yang luas sehingga mempermudah untuk meningkatkan kesadaran tentang brand.

Selain itu, komponen utama humas tradisional berfokus pada brand positioning dalam media placement. Tradisional PR akan mencari, melihat bagaimana klien mereka digambarkan, bagaimana pesan dikomunikasikan dan berapa kali merek klien disebutkan di seluruh placement.

Berbanding terbalik dengan humas tradisional, Digital PR menggunakan bentuk komunikasi berbasis online dan memerlukan jaringan internet.

Taktik yang digunakan masih sama dengan Tradisional PR, namun perbedaannya terletak pada sebagian besar jaringan dan komunikasi yang dilakukan secara online dan sosial media.

Humas tradisional cenderung berfokus pada saluran seperti pers umum, publikasi cetak khusus, TV dan radio. Digital PR, di sisi lain, memiliki banyak saluran lain yang tersedia. Ini termasuk situs web, platform media sosial, blog, kampanye influencer, portal berita dan video online.

Kehadiran surat elektronik (surel) atau email, media sosial, dan pesan instan menjadikan praktisi humas atau marketing punya banyak cara untuk berkomunikasi. Revolusi ini juga mengubah cara orang mengonsumsi informasi dan media.

Perbedaan Humas Tradisional dan Digital PR

Humas Tradisional/Konvensional

Jika Anda memikirkan humas tradisional, pikirkan tentang bentuk komunikasi yang tidak membutuhkan internet, seperti radio, televisi, dan media cetak.

Jenis public relations tradisional melibatkan upaya menjangkau media massa serta membangun hubungan. Itu membutuhkan hal-hal seperti siaran pers dan manajemen reputasi.

Menggunakan humas tradisional masih bisa menjadi cara yang bagus untuk meningkatkan kredibilitas Anda karena cara ini mudah diidentifikasi.

Salah satu tantangan terbesar dari humas tradisional adalah bahwa hasilnya sulit diukur. Anda tidak tahu berapa banyak orang yang membaca pengumuman Anda di koran.

PR tradisional lebih sulit dilacak. Namun jika berhasil, maka hasil atau imbalannya bisa jauh lebih besar daripada iklan berbayar dan media baru.

PR Digital

Dalam banyak hal, PR digital mirip dengan bentuk PR tradisional tetapi sangat berbeda di beberapa area utama. PR digital masih mengandalkan hal-hal seperti membangun hubungan dan mendistribusikan siaran pers.

Perbedaannya, bagaimanapun, sebagian besar jaringan dan komunikasi ini dilakukan secara online dan melalui media sosial.

Salah satu komponen kunci PR digital melibatkan membangun hubungan dengan blogger dan influencer terkemuka.

Influencer adalah pengguna media sosial terkemuka dengan jaringan pengikut yang luas, mencapai puluhan ribu hingga jutaan orang.

Dengan membangun hubungan dengan individu-individu ini, perwakilan PR digital dapat membantu menciptakan kesadaran merek dan meningkatkan reputasi klien dan peringkat SEO mereka.

Meskipun kesuksesan di ranah PR tradisional sulit diukur, kesuksesan dalam PR digital mudah dilacak.

Bergantung pada platformnya, perwakilan PR digital dapat mengikuti hal-hal seperti keterlibatan, biaya per klik, biaya per penjualan, dan hampir semua jenis metrik lain yang dapat Anda pikirkan.

Sisi sebaliknya dari semua ini adalah Anda harus sedikit lebih paham teknologi daripada konsumen rata-rata Anda, dan bagi sebagian orang, ini bisa jadi sulit.

Digital versus Tradisional

Jadi, mana yang lebih baik: PR digital atau tradisional? Jawabannya tidak langsung.

Pertama-tama, ada alasan mengapa PR tradisional adalah tradisi. Dunia mungkin menjadi lebih digital, tetapi masih ada yang bisa dikatakan tentang jaringan kuno yang baik dan membangun hubungan.

Selain itu, masyarakat pada umumnya masih bergantung pada sumber media tradisional seperti radio, televisi dan media cetak.

Bahkan, mereka yang berada di ruang digital sering kali masih mendapatkan berita dan hiburan dari apa yang kami anggap sebagai sumber media “tradisional”, jadi akan sangat bodoh untuk menggunakan strategi digital sepenuhnya dan mengabaikan apa yang telah berhasil selama ini.

Demikian pula, ada alasan mengapa PR digital membangun begitu banyak momentum.

PR digital memungkinkan bisnis dan wirausahawan menjangkau jutaan pelanggan potensial dengan biaya yang efektif. Mengapa membuang-buang waktu dan uang untuk menjangkau surat kabar atau pergi ke pameran dagang ketika Anda dapat langsung menjangkau jutaan orang hanya dengan mengklik tombol?

Pada akhirnya, tidak ada PR digital atau tradisional yang lebih unggul dari yang lain. Bisnis harus melaksanakan kombinasi PR tradisional dan digital untuk eksposur maksimum.

Seperti banyak hal dalam hidup, seseorang harus menyeimbangkan yang lama dengan yang baru, dan tantangan setiap pakar PR untuk menemukan di mana letak keseimbangan itu.

Agar PR Dapat Optimal di Era Digital

CEO Wasabi Publicity, Drew Gerber, menegaskan bahwa saat ini dunia telah berubah. Perkembangan teknologi membuat Public Relations (PR) tidak bisa bekerja dengan cara yang sama seperti dulu. “PR telah berevolusi,” katanya.

Namun demikian, PR tradisional masih memiliki nilai yang sangat besar dan masih menjadi tools penting untuk kampanye apa pun. Humas atau marketing tradisional dapat membangun kredibilitas produk, layanan, atau yang lainnya.

Dengan strategi yang tepat plus placement di kanal yang tepat, humas tidak hanya dapat menciptakan kredibilitas, namun juga dapat menciptakan peluang, Bahkan, PR mampu membuka pintu untuk mencapai semua objektif yang diharapkan brand dari sebuah kampanye PR.

Lantas, bagaimana cara membuat PR tradisional dapat efektif di dunia modern seperti sekarang? Drew memberikan sejumlah saran agar pemasar memperhatikan dua fakta ini.

#1 Old-School Versus New-School PR

Perbedaan utama antara kesuksesan PR lama (old-school PR) dan PR baru (new-school PR) terletak pada kenyataan bahwa sekarang PR harus mampu terikat dengan ekspektasi modern, seperti situs web dan kehadiran media sosial.

Oleh karean itu, suda saatnya kalangan humas lembaga, instansi, organisasi, atau divisi marketing lembaga bisnis mulai membenahi situs web mereka.

Menurut Drew, ada sejumlah hal yang harus dilakukan dalam pembenahan itu:

  • Desain situs website harus profesional dan diperbarui
  • Gambar yang dihadirkan harus berkualitas
  • Mengelola sekaligus merancang strategi
  • Memiliki identitas merek (brand identity) yang jelas dan selaras
  • Mampu mengundang audiens untuk terlibat dan beraksi.

Dengan cara-cara seperti itu, diyakini Drew, akan memungkinkan pemasar untuk memelihara hubungan baik melalui saluran PR dan periklanan.

Saat ini dibutuhkan lebih banyak energi untuk menjalin kesepakatan dengan pelanggan, karena publik sudah dibombardir dengan informasi yang berlebihan dan lebih banyak pilihan.

Artinya, jika situs merek atau perusahaan tidak menonjol alias tidak dikelola dengan cara yang baik, maka lembaga atau brand akan kehilangan kredibilitas yang menjadi parameter kinerja humas.

#2 Booming Media Sosial

Cara modern lainnya yang dapat dilakukan humas adalah memanfaatkan kehadiran media sosial.

Faktanya, menurut Drew, humas akan menempatkan merek di media tradisional, namun target market brand justru ingin terhubung di semua saluran media sosial yang paling mereka sukai.

Jika merek atau perusahaan tidak membuat diri mereka tersedia dan koneksi pada platform media sosial, maka sekali lagi hal itu akan menggagalkan objektif dalam membangun kredibilitas lewat liputan media PR yang telah diinvestasikan untuk merek Anda.

Untuk mengelola media sosial, Drew menyarankan agar media sosial mampu menyajikan konten yang menarik, melibatkan pengikut (follower), menggunakan engagement strategy, melakukan penyelarasan identitas merek, dan menjaga frekuensi posting.

“Buatlah publik dan target market tetap terhubung dan saling berbagi secara online sepanjang hari, setiap hari. Jika merek bukan bagian dari percakapan, maka PR tidak bisa bekerja sesuai keinginan atau objektif brand,” jelas Drew.

Di era digital age seperti sekarang, liputan media yang besar setara dengan keseluruhan kesuksesan kampanye merek di platform website dan media sosial.

Diungkapkan Drew, “Di era digital age, PR masih bekerja. Hanya saja bekerja secara berbeda. Dan, saat ini PR butuh kerja ekstra dibandingkan dulu.” (Sumber: Forbes)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *