Belajar dari Kebangkrutan Nokia

Kualitas teknologi, arogansi jajaran manajer, dan lemahnya visi perusahaan menjadi penyebab utama kebangkrutan Nokia.

Belajar dari Kebangkrutan Nokia

Katalisnet.com — Nokia telah lama menjadi pemimpin pasar di pasar telepon seluler. Jangkauannya luar biasa dengan basis pelanggan sangat besar.

Namun, Nokia melakukan kesalahan besar dan bangkrut  karena puas dengan pencapaiannya dan tidak membayangkan persaingan.

Kehilangan pangsa pasar, Nokia kemudian undur diri dari bisnis ponsel. Divisi perangkat kerasnya diakuisisi oleh Microsoft pada 2014. Dua tahun kemudian (2016), lisensi merek Nokia dibeli oleh perusahaan China, HMD Global.

“Kami tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi entah mengapa kami kalah”, ucap mantan CEO Nokia, Stephen Elop saat mengumumkan akuisisi Nokia oleh Microsoft pada 2013.

Faktor Penyebab Nokia Bangkrut

Lantas, kenapa Nokia bangkrut lalu dibeli Microsoft?

Tidak ada yang membantah, Nokia pernah menjadi raksasa ponsel dunia yang seakan tak akan pernah bisa dikalahkan pada dekade 1990-an hingga 2000-an awal.

Ponsel Nokia dipakai oleh begitu banyak orang sehingga masih melegenda hingga kini. Tidak ada yang menduga dan mengira, kenapa Nokia bangkrut.

Keperkasaan Nokia mulai mengendur saat Apple memperkenalkan iPhone tahun 2007. Apa sebenarnya yang membuat runtuhnya donimasi Nokia di industri ponsel? Kenapa Nokia bangkrut?

Tentu, ada banyak faktor yang cukup kompleks. Namun, beberapa peneliti menyorot tiga hal utama dari faktor internal perusahaan, yakni:

  1. Kualitas teknologi yang kalah dari Apple
  2. Arogansi jajaran manajer
  3. Lemahnya visi perusahaan.

Tiga poin tersebut kemudian dirinci lebih mendalam oleh Tim O. Vuori, asisten profesor manajemen strategi Universitas Aaltoo dan profesor strategi, Qui Huy, dari sekolah tinggi bisnis INSEAD Singapura.

Hasil riset merela dipublikasikan dalam karya ilmiah berjudul “Distributed Attention and Shared Emotions in the Innovation Process: How Nokia Lost the Smartphone Battle”.

Huy dan Vuori menemukan, budaya kerja yang “mencekam” menjadi salah satu penyebab kenapa Nokia bangkrut.

Saat itu, para pemimpin disebut cukup tempramental dan membuat manajer level menengah ketakutan. Mereka takut melaporkan keadaan sebenarnya, karena ancaman pemecatan. Terutama tentang laporan penjualan yang gagal memenuhi target.

Di sisi lain, para eksekutif Nokia takut mengakui mutu sebenarnya sistem operasi Symbian yang dijalankan perangkat Nokia saat itu. Mereka khawatir jika mengakui hal tersebut, para investor, pemasok, dan terutama penggunanya, meninggalkan Nokia.

Tapi mereka sadar, butuh waktu cukup lama untuk membangun sistem operasi yang bisa menyamai atau melampaui kualitas iOS buatan Apple.

Di waktu yang sama, para manajer kelas atas mengintimidasi manajer level menengah, menuding mereka kurang ambisius untuk mencapai target.

Ancaman tersebut mendorong manajer level menengah akhirnya berbohong kepada jajaran yang lebih tinggi karena menurut mereka, tidak ada gunanya mengatakan hal yang sebenarnya.

Manajer atas Nokia disebut kurang kompeten dalam urusan teknis, sehingga memengaruhi cara mereka menilai kualitas teknologi buatan mereka dalam menetapkan target dan keputusan.

Salah satu blunder yang pernah dibuat adalah, para petinggi Nokia memutuskan untuk mengalokasikan sumber daya untuk mengembangkan perangkat ponsel baru, untuk memenuhi permintaan pasar dalam jangka pendek.

Mereka justru tidak memanfaatkannya untuk mencapai target jangka panjang, seperti mengembangkan sistem operasi baru.

Gagal berinovasi

Politik internal menjadi salah satu faktor utama yang menjadi penyebab Nokia bangkrut. Para pegawai saling melemahkan dan membuat perusahaan makin rentan tergerus arus kompetisi.

Manajer level atas gagal memotivasi manajer kelas menengah. Mereka memilih menggunakan pendekatan yang keras tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Budaya “ketakutan” yang kadung berjalan memengaruhi interaksi antar karyawan Nokia. Lambat laun, munculah sebuah fenomena yang disebut “miopia temporal” akibat beberapa faktor yang menumpuk.

Secara sederhana, “miopia temporal” didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mempertimbangkan hasil jangka panjang, ketika membuat pilihan.

Faktor manusia ditambah dengan faktor ekonomi dan juga struktural akhirnya membuat Nokia kesulitan berinovasi.

Seperti perusahaan besar pada umumnya, Nokia juga memiliki nilai perusahaan (corporate value) yakni Respect, Challenge, Achievement, dan Renewal (menghormati, tantangan, capaian, dan pembaruan).

Namun, para karyawan Nokia menganggap bos-bos mereka gagal memegang teguh nilai tersebut saat menjalankan operasional.

Belajar mendengar

Studi tentang kebangkrutan Nokia ini juga menunjukkan pentingnya menjaga emosi bersama di antara karyawan.

Manajemen karyawan buruk bisa berdampak bagi kekuatan perusahaan untuk bersaing, seperti yang dialami oleh Nokia, menurut studi How Nokia Lost the Smartphone Battle.

Menurut Konsultan Kepemimpinan Amalia Sterescu, para pemimpin organisasi harus berani mendobrak status quo agar bisa beradaptasi.

Pemimpin juga harus memiliki gaya kolaboratif dan meninggalkan budaya “tutup pintu” alias tidak menerima kolaborasi bersama pihak lain.

“Para pemimpin harus belajar lagi bagaimana mendengarkan pelanggan, mitra, dan karyawan mereka dengan benar,” jelas Amelia dari Medium Brand Minds, Selasa (30/3/2021).

Amalia menambahkan, kecerdasan emosional dibutuhkan para pemimpin untuk mengambil keputusan, terutama saat pekerjanya terdiri dari beragam generasi, termasuk generasi milenial dan generasi Z.

“Pada akhirnya para pemimpin harus menguasai bagaimana kekuatan mereka untuk bertanggung jawab saat mengambil keputusan buruk, inovasi yang gagal, pangsa pasar yang hilang, sementara status, peran, dan bonus juga akan hilang,” jelas Amelia.  (Kompas)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *