Pendengar Menurun, Radio Masih Bertahan

jadi penyiar radio

Katalisnet.com — Tanggal 13 Februari diperingati sebagai Hari Radio Sedunia (World Radio Day). Tahun ini (2021) The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) merayakan WRD ke 10 dengan tema New World, New Radio dengan subtema Evolution, Innovation, and Connection.

Radio memang salah satu media yang masih eksis hingga saat ini, meski pendengarnya menurun dibandingkan sebelum era internet.

Orang kini dengan mudah mendapatkan berita dan hiburan (lagu) di internet. Segala macam informasi berserakan di Facebook, Twitter, Instagram, dan media sosial lainnya. Segala jenis lagu, lawas dan terbaru, ada di Youtube.

Laporan penelitian NPD Group di Amerika Serikat yang dirilis April 2012 menunjukkan anak muda kini lebih mendengarkan musik lewat layanan streaming di internet ketimbang radio FM/AM.

Transformasi Digital

Tak hanya menjalankan fungsi menghibur lewat lagu dan aneka bentuk sajian auditif lainnya, kini radio telah bermetamorfose.

Baca Juga

Radio telah berubah wujud sesuai perkembangan zamannya. Radio sekarang tak hanya media audio, bahkan telah banyak yang berwujud audio visual.

Sentuhan teknologi terbaru telah menjadikan radio mampu menyerupai televisi. Tak sedikit stasiun radio yang menyajikan produk siarannya dalam bentuk radio visual dan radio streaming.

Siaran radio juga tak lagi terkendala oleh halangan jarak dan rintangan alam seperti gunung yang tinggi. Tak ada lagi istilah blank spot area, karena radio kini banyak yang bersiaran dengan mengawinkan teknologi internet dalam wujud podcast dan aplikasi.

Radio tak tergilas oleh perkembangan zaman. Justru media ini mampu beradaptasi dengan baik. Untuk itu, radio bisa menjadi media yang layak diandalkan dan tetap bisa bertahan di tengah gempuran pandemi yang mampu mengurangi kinerja media massa secara umum.

Radio tetap hadir menyiarkan sandiwara, berita, diskusi, feature, dan laporan pandangan mata dengan apik dan mampu membangun imajinasi kesedihan, kegembiraan, dan keindahan. Radio memang perkasa membangun imajinasi atau theatre of mind.

Podcast vs Radio

Menurut peneliti budaya pop Hikmat Darmawan, kemunculan podcast kini menjadi ancaman serius bagi radio yang merupakan media broadcast berbentuk audio. Kelebihan podcast adalah dapat diproduksi secara mandiri dan penayangannya tidak terikat waktu.

”Penonton punya kuasa untuk menonton. Kapan, di mana, dan apa temanya. Tidak ada batasan dari pihak penyiar,” katanya.

Hikmat menganggap, platform pemutar musik bukan menjadi pesaing utama radio. Platform pemutar musik yang menjamur saat ini cenderung menjadi pesaing serius dari alat pemutar musik konvensional, seperti alat pemutar kaset, CD, dan vinil.

Platform pemutar musik bukan menjadi pesaing utama radio. Platform pemutar musik yang menjamur saat ini cenderung menjadi pesaing serius dari alat pemutar musik konvensional, seperti alat pemutar kaset, CD, dan vinil.

Meski begitu, Hikmat menilai industri radio belum mati mengingat saat ini radio juga sudah bertransformasi dengan menyediakan siaran berbasis streaming. Hal ini memungkinkan setiap orang bisa mendengar radio apa pun dan di mana pun.

”Radio masih bisa memanfaatkan perkembangan digital untuk melampaui batas geografis broadcast-nya,” ujarnya.

Sebagai talk radio (medium bincang-bincang), posisi radio, menurut Hikmat, masih relatif kuat. Hanya saja, posisi radio sebagai hits maker (pengorbit lagu-lagu baru) saat ini sudah semakin memudar. (Kompas, Kumparan).

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *